HARI
DESA NASIONAL DAN OPTIMISME PEMBANGUNAN DESA DARI TIMUR INDONESIA
Oleh: Abdul Zohri (Koordinator TPP Provinsi NTB)
Hari Desa
Nasional 2026 yang digelar di Boyolali menandai lebih dari sekadar agenda
tahunan. Bagi dunia pendampingan desa, momentum ini menjadi ruang optimisme
bersama untuk menegaskan kembali desa sebagai subjek utama pembangunan
nasional.
Rangkaian
kegiatan yang berlangsung pada 11–16 Januari 2026 memperlihatkan desa sebagai
pusat gagasan dan praktik pembangunan. Warga desa hadir bukan sebagai penerima,
melainkan sebagai pelaku yang aktif berbagi pengalaman, tantangan, dan arah
masa depan.
Bagi
Provinsi Nusa Tenggara Barat, peringatan ini memiliki arti strategis. NTB
dihuni desa-desa dengan karakter beragam, mulai dari desa agraris, pesisir,
pesantren, hingga desa wisata, yang seluruhnya bergerak dengan dinamika
pembangunan berbeda.
Hari Desa
Nasional mempertemukan keragaman tersebut dalam satu ruang pembelajaran
kolektif. Desa tidak diposisikan untuk diseragamkan, melainkan dipertautkan
agar saling belajar, memperkuat kepercayaan diri, dan memperluas imajinasi
pembangunan.
Seluruh
rangkaian kegiatan Hari Desa Nasional menegaskan bahwa pembangunan desa yang
berkelanjutan hanya mungkin terjadi ketika warga desa ditempatkan sebagai
pengambil keputusan utama. Partisipasi aktif masyarakat menjadi fondasi yang
tidak dapat digantikan oleh pendekatan teknokratis.
Pengalaman
pendampingan desa di NTB menunjukkan bahwa desa berkembang lebih stabil ketika
ruang musyawarah dijaga tetap hidup. Keputusan yang lahir dari dialog terbuka
cenderung memiliki daya tahan sosial yang lebih kuat dalam jangka panjang.
Pertukaran
gagasan antardesa di Boyolali memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak selalu
identik dengan proyek berskala besar. Banyak desa justru bergerak maju melalui
pengelolaan sederhana yang konsisten, disiplin, dan berakar pada nilai
kebersamaan.
Refleksi ini
memperkuat keyakinan bahwa pembangunan desa memerlukan kesabaran kolektif.
Orientasi fisik dan serapan anggaran perlu dilengkapi dengan investasi sosial
yang memberi ruang tumbuh bagi kapasitas warga desa.
Dalam
ekosistem pembangunan desa, peran pendamping desa terus mengalami penyesuaian. Tantangan
administratif tidak dapat dihindari, namun Hari Desa Nasional mengingatkan
bahwa inti pendampingan terletak pada penjagaan proses pembangunan itu sendiri.
Pendamping
desa berperan memastikan agar transformasi desa berjalan searah dengan
kebutuhan dan aspirasi warga. Kehadiran pendamping diharapkan mampu menjaga
ritme pembangunan agar tidak tergesa, namun tetap bergerak maju secara terukur.
Optimisme
pembangunan desa di NTB tumbuh ketika pendampingan dipahami sebagai fasilitasi,
bukan intervensi. Desa diberi ruang belajar dari pengalaman, termasuk dari
kegagalan kecil yang menjadi bagian dari proses menuju kemandirian.
Momentum
nasional ini memperkuat kesadaran bahwa pembangunan desa tidak selalu dapat
diukur dalam satu siklus anggaran. Banyak perubahan sosial membutuhkan waktu,
konsistensi, dan kepercayaan antarpelaku pembangunan.
Hari Desa
Nasional 2026 juga menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa bertumpu pada kerja
kolektif warga. Di balik BUMDes dan program unggulan, terdapat kerja sosial
yang digerakkan oleh kelompok perempuan, petani, nelayan, dan pelaku usaha
mikro.
Di NTB,
desa-desa yang ekonominya tumbuh relatif stabil umumnya memiliki modal sosial
yang kuat. Kepercayaan, komunikasi terbuka, dan kepemimpinan lokal yang adaptif
menjadi penopang utama keberlanjutan ekonomi desa.
Pembangunan
ekonomi desa tidak semata soal menciptakan usaha baru, tetapi juga tentang
membangun keberanian warga dalam mengambil keputusan ekonomi secara sadar dan
bertanggung jawab.
Momentum
Boyolali memperkuat optimisme bahwa kerja-kerja kecil yang konsisten, meski
jarang terlihat, memiliki dampak besar dalam memperkuat ketahanan ekonomi desa
dalam jangka panjang.
Pembukaan
Liga Desa di Desa Banyu Biru, Semarang, pada November 2025 memberi dimensi
penting bagi Hari Desa Nasional. Olahraga ditempatkan sebagai bagian dari
strategi pembangunan manusia desa.
Bagi NTB,
inisiatif ini membuka peluang besar. Banyak desa memiliki potensi atletik yang
lahir dari keseharian warga, namun belum terhubung dengan sistem pembinaan yang
berkelanjutan dan terencana.
Liga Desa
memperluas pandangan bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi ekonomi
dan infrastruktur. Pembangunan manusia, khususnya generasi muda, menjadi
investasi jangka panjang bagi keberlanjutan desa.
Integrasi
kegiatan olahraga ke dalam perencanaan desa mendorong tumbuhnya ruang
partisipasi pemuda. Desa yang memberi ruang ekspresi bagi generasi mudanya
cenderung lebih adaptif menghadapi perubahan sosial.
Hari Desa
Nasional menjadi ruang pertemuan berbagai pemangku kepentingan pembangunan
desa. Pemerintah, pendamping, akademisi, dan komunitas desa hadir dalam
semangat kolaborasi yang semakin terbuka.
Di NTB,
sinergi antarpihak telah menunjukkan kemajuan, meski tantangan konsistensi
tetap ada. Pergantian prioritas dan tekanan administratif kerap menguji
keberlanjutan arah pembangunan desa.
Optimisme
tumbuh ketika desa tetap ditempatkan sebagai pusat keputusan. Kolaborasi yang
sehat memperkuat kapasitas desa, bukan menciptakan ketergantungan baru terhadap
aktor eksternal.
Momentum
tahunan ini mengingatkan bahwa kebijakan dan praktik perlu berjalan beriringan.
Refleksi nasional hanya bermakna ketika diterjemahkan secara konsisten dalam
kerja harian di tingkat desa.
Penguatan
budaya lokal menjadi pesan penting dari Hari Desa Nasional 2026. Budaya
dipahami sebagai sumber nilai yang menuntun etika dan arah pembangunan desa.
Di NTB,
tradisi gotong royong, musyawarah, dan religiusitas masih menjadi kekuatan
sosial desa. Integrasi nilai budaya ke dalam kebijakan desa memperkuat
legitimasi dan keberterimaan pembangunan.
Transformasi
desa yang berpijak pada budaya lokal cenderung lebih inklusif dan
berkelanjutan. Modernisasi tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai
peluang yang dikelola dengan kearifan.
Boyolali
menunjukkan bahwa desa yang percaya pada identitasnya memiliki fondasi sosial
yang kuat untuk bergerak maju tanpa kehilangan jati diri.
Hari Desa
Nasional 2026 mempertegas bahwa pembangunan desa adalah perjalanan kolektif
yang sarat harapan. Keberhasilan desa tidak diukur dari kecepatan, melainkan
dari ketepatan arah dan keberlanjutan prosesnya.
Bagi Nusa
Tenggara Barat, momentum ini memperkuat optimisme bahwa desa mandiri tumbuh
dari kerja konsisten, kolaborasi yang sehat, dan kepercayaan pada kapasitas
warga desa.
Dengan
menjaga semangat partisipasi, budaya lokal, dan investasi sumber daya manusia,
desa-desa di NTB memiliki peluang besar menjadi penggerak utama pembangunan
yang inklusif dan berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar