Kamis, 22 Januari 2026

HARI DESA NASIONAL DAN OPTIMISME PEMBANGUNAN DESA DARI TIMUR INDONESIA

Oleh: Abdul Zohri (Koordinator TPP Provinsi NTB)

Hari Desa Nasional 2026 yang digelar di Boyolali menandai lebih dari sekadar agenda tahunan. Bagi dunia pendampingan desa, momentum ini menjadi ruang optimisme bersama untuk menegaskan kembali desa sebagai subjek utama pembangunan nasional.

Abdul Zohri (Korprov TPP NTB

Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 11–16 Januari 2026 memperlihatkan desa sebagai pusat gagasan dan praktik pembangunan. Warga desa hadir bukan sebagai penerima, melainkan sebagai pelaku yang aktif berbagi pengalaman, tantangan, dan arah masa depan.

Bagi Provinsi Nusa Tenggara Barat, peringatan ini memiliki arti strategis. NTB dihuni desa-desa dengan karakter beragam, mulai dari desa agraris, pesisir, pesantren, hingga desa wisata, yang seluruhnya bergerak dengan dinamika pembangunan berbeda.

Hari Desa Nasional mempertemukan keragaman tersebut dalam satu ruang pembelajaran kolektif. Desa tidak diposisikan untuk diseragamkan, melainkan dipertautkan agar saling belajar, memperkuat kepercayaan diri, dan memperluas imajinasi pembangunan.

 Desa sebagai Penggerak Utama Pembangunan

Seluruh rangkaian kegiatan Hari Desa Nasional menegaskan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan hanya mungkin terjadi ketika warga desa ditempatkan sebagai pengambil keputusan utama. Partisipasi aktif masyarakat menjadi fondasi yang tidak dapat digantikan oleh pendekatan teknokratis.

Pengalaman pendampingan desa di NTB menunjukkan bahwa desa berkembang lebih stabil ketika ruang musyawarah dijaga tetap hidup. Keputusan yang lahir dari dialog terbuka cenderung memiliki daya tahan sosial yang lebih kuat dalam jangka panjang.

Pertukaran gagasan antardesa di Boyolali memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak selalu identik dengan proyek berskala besar. Banyak desa justru bergerak maju melalui pengelolaan sederhana yang konsisten, disiplin, dan berakar pada nilai kebersamaan.

Refleksi ini memperkuat keyakinan bahwa pembangunan desa memerlukan kesabaran kolektif. Orientasi fisik dan serapan anggaran perlu dilengkapi dengan investasi sosial yang memberi ruang tumbuh bagi kapasitas warga desa.

 Pendamping Desa sebagai Penjaga Proses

Dalam ekosistem pembangunan desa, peran pendamping desa terus mengalami penyesuaian. Tantangan administratif tidak dapat dihindari, namun Hari Desa Nasional mengingatkan bahwa inti pendampingan terletak pada penjagaan proses pembangunan itu sendiri.

Pendamping desa berperan memastikan agar transformasi desa berjalan searah dengan kebutuhan dan aspirasi warga. Kehadiran pendamping diharapkan mampu menjaga ritme pembangunan agar tidak tergesa, namun tetap bergerak maju secara terukur.

Optimisme pembangunan desa di NTB tumbuh ketika pendampingan dipahami sebagai fasilitasi, bukan intervensi. Desa diberi ruang belajar dari pengalaman, termasuk dari kegagalan kecil yang menjadi bagian dari proses menuju kemandirian.

Momentum nasional ini memperkuat kesadaran bahwa pembangunan desa tidak selalu dapat diukur dalam satu siklus anggaran. Banyak perubahan sosial membutuhkan waktu, konsistensi, dan kepercayaan antarpelaku pembangunan.

 Ekonomi Desa dan Daya Tahan Sosial

Hari Desa Nasional 2026 juga menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa bertumpu pada kerja kolektif warga. Di balik BUMDes dan program unggulan, terdapat kerja sosial yang digerakkan oleh kelompok perempuan, petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro.

Di NTB, desa-desa yang ekonominya tumbuh relatif stabil umumnya memiliki modal sosial yang kuat. Kepercayaan, komunikasi terbuka, dan kepemimpinan lokal yang adaptif menjadi penopang utama keberlanjutan ekonomi desa.

Pembangunan ekonomi desa tidak semata soal menciptakan usaha baru, tetapi juga tentang membangun keberanian warga dalam mengambil keputusan ekonomi secara sadar dan bertanggung jawab.

Momentum Boyolali memperkuat optimisme bahwa kerja-kerja kecil yang konsisten, meski jarang terlihat, memiliki dampak besar dalam memperkuat ketahanan ekonomi desa dalam jangka panjang.

 Liga Desa dan Investasi Generasi Muda

Pembukaan Liga Desa di Desa Banyu Biru, Semarang, pada November 2025 memberi dimensi penting bagi Hari Desa Nasional. Olahraga ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia desa.

Bagi NTB, inisiatif ini membuka peluang besar. Banyak desa memiliki potensi atletik yang lahir dari keseharian warga, namun belum terhubung dengan sistem pembinaan yang berkelanjutan dan terencana.

Liga Desa memperluas pandangan bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi ekonomi dan infrastruktur. Pembangunan manusia, khususnya generasi muda, menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan desa.

Integrasi kegiatan olahraga ke dalam perencanaan desa mendorong tumbuhnya ruang partisipasi pemuda. Desa yang memberi ruang ekspresi bagi generasi mudanya cenderung lebih adaptif menghadapi perubahan sosial.

 Sinergi dan Konsistensi Pembangunan

Hari Desa Nasional menjadi ruang pertemuan berbagai pemangku kepentingan pembangunan desa. Pemerintah, pendamping, akademisi, dan komunitas desa hadir dalam semangat kolaborasi yang semakin terbuka.

Di NTB, sinergi antarpihak telah menunjukkan kemajuan, meski tantangan konsistensi tetap ada. Pergantian prioritas dan tekanan administratif kerap menguji keberlanjutan arah pembangunan desa.

Optimisme tumbuh ketika desa tetap ditempatkan sebagai pusat keputusan. Kolaborasi yang sehat memperkuat kapasitas desa, bukan menciptakan ketergantungan baru terhadap aktor eksternal.

Momentum tahunan ini mengingatkan bahwa kebijakan dan praktik perlu berjalan beriringan. Refleksi nasional hanya bermakna ketika diterjemahkan secara konsisten dalam kerja harian di tingkat desa.

 Budaya Lokal sebagai Fondasi Transformasi

Penguatan budaya lokal menjadi pesan penting dari Hari Desa Nasional 2026. Budaya dipahami sebagai sumber nilai yang menuntun etika dan arah pembangunan desa.

Di NTB, tradisi gotong royong, musyawarah, dan religiusitas masih menjadi kekuatan sosial desa. Integrasi nilai budaya ke dalam kebijakan desa memperkuat legitimasi dan keberterimaan pembangunan.

Transformasi desa yang berpijak pada budaya lokal cenderung lebih inklusif dan berkelanjutan. Modernisasi tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang yang dikelola dengan kearifan.

Boyolali menunjukkan bahwa desa yang percaya pada identitasnya memiliki fondasi sosial yang kuat untuk bergerak maju tanpa kehilangan jati diri.

 Optimisme Desa Menuju Masa Depan

Hari Desa Nasional 2026 mempertegas bahwa pembangunan desa adalah perjalanan kolektif yang sarat harapan. Keberhasilan desa tidak diukur dari kecepatan, melainkan dari ketepatan arah dan keberlanjutan prosesnya.

Bagi Nusa Tenggara Barat, momentum ini memperkuat optimisme bahwa desa mandiri tumbuh dari kerja konsisten, kolaborasi yang sehat, dan kepercayaan pada kapasitas warga desa.

Dengan menjaga semangat partisipasi, budaya lokal, dan investasi sumber daya manusia, desa-desa di NTB memiliki peluang besar menjadi penggerak utama pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketahanan Pangan Dalam Mendukung Swasembada Pangan

Lombok: Dari Lapar ke Ketahanan Pangan Desa   Abdul Zohri Koordinator Provinsi (Korprov) TPP Nusa Tenggara Barat Saya terkejut ketika me...